https://journal.iaintakengon.ac.id/index.php/fushilat/issue/feed Fushilat : Jurnal Ilmu al-Quran dan Tafsir 2026-01-01T00:15:58+07:00 Open Journal Systems <p>Fushilat</p> https://journal.iaintakengon.ac.id/index.php/fushilat/article/view/576 Perundungan sebagai Fenomena Sosial dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Tematik 2025-12-29T20:18:11+07:00 Muhammad Nurman rasacuka@gmail.com Sodikin sodikin@iaintakengon.ac.id Saiful Azhar rasacuka@gmail.com <p>Perundungan merupakan bentuk kekerasan sosial yang tidak hanya muncul dalam wujud kekerasan fisik, tetapi juga melalui kekerasan verbal seperti ejekan, penghinaan, pelabelan negatif, ancaman, dan stigmatisasi sosial. Praktik-praktik tersebut berpotensi merusak martabat manusia dan menimbulkan dampak psikologis yang mendalam. Artikel ini mengkaji representasi perundungan verbal dan fisik dalam Al-Qur’an dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik (<em>maudhu‘i</em>), dengan fokus pada kisah-kisah para nabi sebagai narasi utama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi kepustakaan. Al-Qur’an dijadikan sebagai sumber primer, sementara kitab-kitab tafsir klasik dan kontemporer—seperti <em>Jāmi‘ al-Bayān</em> karya al-Ṭabarī, <em>Tafsīr al-Munīr</em> karya Wahbah az-Zuḥaylī, dan <em>Fī </em><em>Ẓ</em><em>ilāl al-Qur’ān</em> karya Sayyid Quṭb—digunakan sebagai sumber sekunder. Ayat-ayat yang relevan dihimpun, diklasifikasikan berdasarkan bentuk perundungan, dan dianalisis secara tematik untuk mengungkap pola, relasi sosial, serta pesan etis yang terkandung di dalamnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Qur’an merepresentasikan perundungan sebagai fenomena sosial yang berulang dan erat kaitannya dengan ketimpangan relasi kuasa serta penolakan terhadap kebenaran. Perundungan verbal sering kali berfungsi sebagai tahap awal untuk melemahkan legitimasi kebenaran, yang kemudian berkembang menjadi perundungan fisik seperti penganiayaan, pemenjaraan, pengusiran, dan upaya pembunuhan. Al-Qur’an secara tegas mengutuk kedua bentuk perundungan tersebut sebagai perbuatan zalim dan menegaskan pentingnya respons etis yang berlandaskan kesabaran, keteguhan moral, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kajian ini menegaskan relevansi nilai-nilai Qur’ani dalam merespons fenomena perundungan dalam konteks sosial kontemporer.</p> 2025-12-31T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2025 Fushilat : Jurnal Ilmu al-Quran dan Tafsir https://journal.iaintakengon.ac.id/index.php/fushilat/article/view/577 Kitab Tafsir Al-Sya’rawi Karya Mutawalli Al-Sya’rawi dan Kontribusinya Terhadap Keilmuan Tafsir Kontemporer 2025-12-31T07:55:52+07:00 Mumtaz Yasa yasa.ibnu20@gmail.com Zumadil zumadilaidil@gmail.com <p>Artikel ini mengkaji <em>Kitab Tafsir Al-Sya’rawi</em> karya Mutawalli Al-Sya’rawi serta kontribusinya terhadap perkembangan keilmuan tafsir Al-Qur’an kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan, menjadikan <em>Tafsir Al-Sya’rawi</em> sebagai sumber primer yang dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir Al-Sya’rawi memiliki karakter metodologis yang khas, yakni penggunaan metode tahlili yang fleksibel dengan penekanan pada analisis kebahasaan, refleksi teologis, dan pendekatan spiritual yang kontekstual. Tafsir ini tidak hanya menjelaskan makna ayat secara tekstual, tetapi juga menekankan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk praktis dalam kehidupan sosial dan moral umat. Kontribusi utama <em>Tafsir Al-Sya’rawi</em> terletak pada kemampuannya menjembatani teks wahyu dengan realitas kontemporer melalui bahasa yang komunikatif dan inklusif. Dengan demikian, tafsir ini memperkaya khazanah tafsir modern serta menawarkan model tafsir yang relevan dengan kebutuhan umat Islam masa kini.</p> 2025-12-31T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2025 Fushilat : Jurnal Ilmu al-Quran dan Tafsir https://journal.iaintakengon.ac.id/index.php/fushilat/article/view/580 Rekonstruksi Makna Qawwamah dalam Alquran 2026-01-01T00:15:58+07:00 ahmad sudianto ngajiituguebanget@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ulang dan merekonstruksi konsep Qawwāmah dalam Al-Quran, khususnya yang terdapat dalam Surah An-Nisa' ayat 34, melalui pendekatan hermeneutis kontemporer. Konsep Qawwāmah seringkali diinterpretasikan sebagai legitimasi bagi superioritas laki-laki atas perempuan, yang pada beberapa kasus berujung pada pembenaran kekerasan domestik. Menggunakan metode analisis hermeneutis-kontekstual dengan pendekatan semantik-linguistik dan kajian sosio-historis, penelitian ini berupaya memahami makna Qawwāmah dalam konteks kekinian dengan tetap berpegang pada prinsip-prinsip Al-Quran tentang keadilan dan kasih sayang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep Qawwāmah pada hakikatnya menekankan tanggung jawab, perlindungan, dan pengayoman, bukan dominasi atau penguasaan. Rekonstruksi makna ini berimplikasi pada pembentukan relasi suami-istri yang setara, saling menghormati, dan bebas dari kekerasan. Penelitian ini berkontribusi dalam menawarkan tafsir alternatif yang kontekstual terhadap ayat-ayat relasional untuk menciptakan keluarga yang harmonis sesuai dengan maqāṣid al-sharī'ah (tujuan syariat Islam).</p> <p>Kata Kunci: Qawwāmah, hermeneutika, kekerasan domestik, tafsir kontekstual, relasi gender</p> 2025-12-31T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2025 Fushilat : Jurnal Ilmu al-Quran dan Tafsir https://journal.iaintakengon.ac.id/index.php/fushilat/article/view/588 Integrasi Ilmu Pengetahuan dan Tafsir Al-Qur’an Sebagai Upaya Memahami Ayat Kauniyah 2025-12-31T22:01:10+07:00 Irhas irhas@iaintakengon.ac.id <p><em>Di antaran kenyataan sejarah bahwa umat Islam pernah berjaya dengan menguasai ilmu pengetahuan. Namun seiring berjalannya waktu, kejayaan itu hilang berpindah ke tangan orang-orang Eropa. Dikotomi ilmu telah memunculkan pemilahan antara agama dan ilmu pengetahuan. Hal itu menjadikan umat Islam semakin tertinggal. </em></p> <p><em>Agar umat Islam kembali menjemput kejayaan ilmu pengetahuannya, di antara upaya ke arah itu adalah mengintegrasikan antara ilmu dengan Al-Qur’an. Fokus tulisan ini pertama, untuk menjawab perlukah Al-Qur’an diintegrasikan dengan ilmu? Kedua, Bagaimana Al-Qur’an memotivasi agar manusia memiliki ilmu pengetahuan? Ketiga, bagaimana mufasir mengintegrasikan ilmu pengetahuan untuk memahami isyarat keilmuan yang disampaikan Al-Qur’an terkait penciptaan alam semesta.</em></p> <p><em>Tulisan ini dipaparkan dengan menggunakan metode tafsir maudhui. Hasil dari pembahasan ini menyimpulkan bahwa integrasi ilmu pengetahuan dengan Al-Qur’an dipandang penting dalam rangka memudahkan pemahaman dalam menangkap pesan dan ajaran yang dikandung Al-Qur’an, terutama dalam bidang yang berkaitan dengan tema-seputar ayat kauniyah. Al-Qur’an memberi petunjuknya bagi orang-orang yang memaksimalkan potensi akal dalam rangka menggapai hidayah Allah melalui kecerdasan intelektual dan spiritual yang dimilikinya. Sebagai contoh integrasi ilmu pengetahuan dalam Al-Qur’an ditampilkan pemahaman terhadap persoalan penciptaan alam semesta dalam enam masa. Di sini tafsir tidak dalam rangka mencocokkan apa yang dikemukakan oleh sains. Tapi penjelasan sains hanya sebagai penambah informasi dan sebagai alternatif pendekatan dalam rangka memahami ajaran Al-Qur’an.</em></p> 2025-12-31T00:00:00+07:00 Hak Cipta (c) 2025 Fushilat : Jurnal Ilmu al-Quran dan Tafsir